فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Saya terus balik lagi ke Quran 94:5.
With hardship comes ease.
Saya udah baca ayat itu berkali-kali. Minggu ini, ayat itu berhenti terasa seperti kutipan yang saya pahami. Saya membutuhkannya.
Saya harus menerima keputusan yang bukan pilihan saya. Sesuatu di pekerjaan berakhir sebelum saya siap, dan sisa hari itu terasa terlalu normal dibandingkan betapa berisiknya isi kepala saya.
Bagian yang aneh adalah betapa biasanya ruangan itu tetap terasa. Laptop masih ada di atas meja. Pesan masih terus masuk. Putri saya masih membutuhkan ayahnya. Istri saya masih membutuhkan saya di rumah, hadir, bukan cuma duduk di sana dengan pikiran yang entah ke mana.
Kadang saya gagal di situ. Saya ada di sana, tapi nggak benar-benar ada.
Saya sering membandingkan rasa sakit saya dengan rasa sakit orang lain lalu bilang ke diri sendiri kalau saya nggak seharusnya merasakannya. Kali ini itu nggak membantu.
Saya juga tahu saya nggak bisa menulis setiap detailnya di sini. Beberapa bagian tempatnya bukan di internet. Beberapa bagian melibatkan orang lain. Beberapa bagian masih terlalu baru, dan saya nggak mau memublikasikan kalimat yang bakal saya sesali nanti.
Keputusan itu mengubah rencana saya sebelum saya tahu harus ngapain selanjutnya. Cuma sebanyak itu detail yang bisa saya bagikan sekarang.
Ayatnya
Dulu saya membaca Quran 94:5 sebagai sesuatu tentang "setelah". Setelah bagian yang sulit, kemudahan bakal datang.
Tapi ayat itu bilang "with". Saya terus menatap kata itu.
Itu nggak bikin rasa sakitnya jadi lebih kecil. Itu nggak menjawab pertanyaan-pertanyaan praktisnya. Itu mengingatkan saya bahwa Allah nggak meninggalkan saya sendirian di dalam bagian yang sulit.
Hal itu penting karena insting pertama saya adalah mencari jalan keluar. Saya mau tahu kapan perasaan ini berakhir. Saya mau tanggal, langkah berikutnya yang jelas, penjelasan yang rapi, alasan yang bikin semuanya lebih gampang diterima.
Ayat itu nggak memberi saya jadwal.
Ayat itu memberi saya teman.
Ease is with hardship. Artinya saya nggak perlu menunggu sampai saya jadi hebat lagi sebelum Allah bisa mengirimkan kelegaan. Saya nggak perlu menjelaskan semuanya dengan baik dulu. Saya nggak perlu mengubah semua ini jadi pelajaran yang bikin orang mengangguk.
Ayat itu memberi saya izin untuk mencari kemudahan kecil di dalam bagian yang sulit, selagi masalahnya masih ada, selagi pertanyaannya masih terasa terbuka, selagi saya masih malu dengan betapa lambatnya saya bergerak.
Satu kata itu lagi bekerja keras banget di dada saya sekarang.
Saya terus mengulanginya karena saya terus melupakannya.
Saya mau kelegaan itu datang setelah rasa sakitnya, lengkap dengan penjelasan yang jelas dan rencana. Yang terjadi malah momen-momen lega datang selagi saya masih khawatir.
Sebagian kemudahan muncul selagi hal yang berat itu masih ada di atas meja. Secangkir kopi terasa hangat. Putri saya tertawa karena hal kecil. Istri saya nanya apa saya udah makan. Saya salat dan pikiran saya melayang, lalu saya tarik balik dan coba lagi.
Hal yang berat itu nggak menghilang.
Tapi dia juga nggak menguasai seluruh ruangan.
Pagi Pertama
Pagi pertama itu sepi dengan cara yang nggak saya suka.
Saya bangun dan mengingat semuanya bahkan sebelum saya meraih HP. Detik kecil antara tidur dan teringat itu nggak berlangsung cukup lama.
Ada hal-hal normal yang harus dikerjakan. Cuci muka. Cek putri saya. Makan sesuatu. Balas pesan. Lihat laptop. Mikirin langkah berikutnya.
Hal-hal normal terasa lebih berat karena semuanya datang dengan pertanyaan di baliknya.
Terus sekarang gimana?
Saya nggak punya jawabannya.
Saya buka tab lalu menutupnya lagi. Saya mengecek layar yang sama lebih dari sekali. Saya coba bikin rencana, lalu udah capek duluan sebelum rencananya terbentuk. Saya pengin langsung berguna, karena jadi berguna adalah cara paling gampang buat saya menghindari rasa takut.
Tapi badan saya nggak bergerak secepat yang diinginkan gengsi saya.
Saya rasa itu bikin saya lebih malu daripada beritanya sendiri.
Saya terbiasa bereaksi. Ada yang rusak, saya cari penyebabnya. Ada yang butuh bantuan, saya coba jawab. Ada sistem yang bermasalah, saya lihat log. Deadline makin dekat, saya bikin daftar dan mulai mencoret task-task yang paling kecil.
Yang ini nggak berperilaku seperti pekerjaan.
Nggak ada dashboard yang berubah merah. Nggak ada test yang gagal. Nggak ada error message yang kasih tahu harus lihat ke mana. Nggak ada yang minta pull request.
Saya punya masalah manusia, dan saya terus mencoba memperlakukannya seperti masalah engineering.
Itu nggak berhasil.
Saya bisa bikin daftar, tapi daftar itu nggak menghilangkan sesak di dada saya. Saya bisa buka dokumen, tapi kata-kata di layar terasa jauh. Saya bisa bilang ke diri sendiri untuk berpikir rasional, tapi rasa takut nggak pergi cuma karena saya menjelaskan faktanya ke dia.
Jadi pagi pertama itu berubah jadi serangkaian usaha kecil.
Saya duduk, berdiri, dan minum air. Saya cek HP, menaruhnya, lalu melihat laptop lagi. Lalu saya membuang pandangan.
Saya nggak suka versi diri saya yang itu. Dia terasa lambat. Dia terasa rapuh. Dia nggak kelihatan seperti orang yang saya pengin jadi.
Tapi dia tetap saya.
Layar Kosong
Saya buka laptop dan menatap layar kosong selama lima belas menit. Saya nggak mengetik. Saya nggak buka job board. Saya nggak menyentuh resume saya.
Saya cuma melihat kursor berkedip dan menunggu otak saya menyusul.
Lalu saya merasa bersalah karena nggak ngapa-ngapain, dan itu bikin saya makin capek.
Saya pengin menulis bahwa saya langsung salat dan merasa tenang. Itu bakal terdengar lebih bagus. Itu juga bakal bohong.
Yang terjadi lebih kecil dari itu. Saya tutup laptopnya. Saya bernapas. Saya paksa diri saya bergerak. Belakangan, saya buka lagi dan mengirim satu pesan.
Pesan itu satu-satunya yang berhasil saya lakukan dalam satu jam itu. Pesan itu memberi saya satu task yang selesai saat saya kesulitan memulai apa pun.
Itu terjadi lebih dari sekali.
Kadang saya buka laptop dengan rencana. Saya bakal update resume. Saya bakal merapikan deskripsi proyek. Saya bakal bikin daftar orang yang mau dihubungi. Saya bakal melakukan hal yang dilakukan orang dewasa yang bertanggung jawab dan bergerak maju.
Lalu layarnya terbuka dan rencananya buyar.
Kursornya berkedip.
Saya menatap.
Tangan saya menjauh dari keyboard seolah tombol-tombolnya panas.
Lima belas menit bisa terasa lama kalau kamu nggak ngapa-ngapain. Cukup lama untuk menghakimi diri sendiri. Cukup lama untuk membayangkan apa kata orang lain kalau mereka melihat kamu duduk di sana. Cukup lama untuk ingat bahwa dulu kamu bergerak lebih cepat.
Bagian terburuknya bukan sunyinya. Bagian terburuknya adalah tahu apa yang harus saya lakukan dan tetap nggak bisa melakukannya.
Itu bagian yang nggak suka saya akui.
Tapi saya menulisnya karena mungkin ada orang lain yang tahu persis perasaan itu. Perasaan saat langkah berikutnya udah ada di depan mata dan kamu tetap butuh waktu sebelum badanmu mau mengambilnya.
Jam-jam Setelahnya
Setelah layar kosong itu, waktu jadi aneh.
Dari luar, hari itu punya bentuk. Pagi, siang, malam. Makan. Salat. Keluarga. Pesan. Laptop yang dibuka dan ditutup.
Di dalam diri saya, hari itu nggak bergerak lurus.
Di satu jam saya bisa berpikir jernih. Saya bisa lihat resume saya dan menemukan kalimat yang perlu diperbaiki. Saya bisa ingat proyek-proyek yang saya banggakan. Saya bisa bilang ke diri sendiri bahwa akhir yang berat nggak menghapus kerja bertahun-tahun.
Jam berikutnya saya merasa kecil lagi.
Saya bakal teringat sebuah meeting, sebuah rencana, sebuah pekerjaan yang saya kira masih akan melibatkan saya. Pikiran saya berjalan balik ke ruangan itu walaupun badan saya ada di tempat lain.
Itu bagian yang melelahkan. Nggak ada yang lihat seberapa sering kamu harus kembali ke saat ini.
Orang lihat pesan yang akhirnya kamu balas. Mereka nggak lihat tiga puluh menit sebelumnya, saat kamu mengetik satu kalimat, menghapusnya, pergi, balik lagi, dan mengetik sesuatu yang lebih sederhana.
Orang lihat resume yang di-update. Mereka nggak lihat waktu kamu cuma menatap. Mereka nggak lihat kamu mencoba memutuskan apakah satu bullet point masih terdengar seperti kamu.
Orang lihat jawaban yang tenang.
Mereka nggak lihat usaha yang dibutuhkan untuk bikin suaramu terdengar normal.
Usaha untuk menjawab dengan normal itu bikin harinya terasa lebih panjang dari kelihatannya.
Bagian yang Nggak Mau Saya Pertontonkan
Saya nggak mau mengemas ini jadi pelajaran. Saya masih ada di dalamnya.
Ada menit-menit saat saya merasa tenang. Di menit lain saya teringat satu detail dan dada saya sesak lagi.
Saya memikirkan rencana. Uang. Interview. Timing. Gimana menjelaskan semua ini. Gimana menjaga muka tetap normal waktu ada yang tanya, "How are you?"
Saya juga memikirkan pekerjaan yang saya pedulikan. Susah melepaskan sesuatu selagi pikiranmu masih pengin memperbaikinya.
Rasa malu juga muncul, dan itu menyebalkan karena dia datang sebelum logika.
Kepala saya tahu keputusan seperti ini bukan rangkuman dari kemampuan saya. Kepala saya tahu orang bisa bekerja dengan baik dan tetap kehilangan tempatnya di sebuah perusahaan. Kepala saya tahu sebuah bab bisa ditutup karena alasan-alasan yang nggak pas dimasukkan ke kotak kegagalan pribadi.
Hati saya butuh waktu lebih lama.
Itu bagian yang jujur. Saya bisa memahami sesuatu dan tetap butuh waktu sampai badan saya ikut memercayainya.
Saya terus memutar ulang hal-hal kecil. Percakapan. Rencana. Pekerjaan yang saya kira masih membutuhkan saya. Versi masa depan yang diam-diam saya anggap bakal terus berlanjut.
Lalu saya ingat bahwa asumsi bukan janji.
Itu menyakitkan, tapi itu juga mengatakan yang sebenarnya.
Saya juga memperhatikan pertunjukan kecil yang mulai terjadi waktu orang nanya kabar saya.
Sebagian diri saya pengin bikin jawabannya rapi.
"I'm okay."
"Taking it one day at a time."
"Trying to see the good side."
Jawaban-jawaban itu bukan bohong, tapi semuanya melewatkan bagian tengah yang berantakan. Jawaban itu melewatkan momen saat saya merasa baik-baik aja selama dua jam lalu tiba-tiba merasa berat lagi. Jawaban itu melewatkan gimana saya bisa tertawa bareng putri saya dan tetap merasakan rasa takut yang menunggu saya setelah dia tidur.
Saya nggak menyalahkan siapa pun yang nanya. Saya juga bakal nanya. Saya cuma nggak selalu tahu seberapa banyak kejujuran yang harus saya serahkan dalam percakapan biasa.
Jadi saya terus belajar membedakan privasi dan pura-pura.
Privasi bilang, "I cannot share all of this."
Pura-pura bilang, "I am fine, and none of this hurts."
Saya mencoba memilih privasi tanpa pura-pura.
Jadi Suami dan Ayah Sambil Memikul Ini
Rumah nggak berhenti sejenak saat kepala saya jadi berat.
Putri saya nggak mengerti soal ketidakpastian karier. Dia mengerti kehadiran. Dia meraih, bertanya, bergerak, tertawa, menangis, membutuhkan. Dunianya serba sekarang.
Itu terasa berat dan baik di saat yang sama.
Berat karena saya nggak bisa menghilang ke dalam pikiran saya seharian. Baik karena dia menarik saya kembali ke hal-hal yang masih nyata. Saya masih ayahnya. Saya masih punya tangan yang bisa menggendongnya. Saya masih punya suara yang bisa menjawabnya. Saya masih punya tempat di rumah ini yang nggak bisa dihapus oleh keputusan dari luar mana pun.
Istri saya melihat lebih banyak dari yang saya ucapkan.
Kadang saya mencoba kelihatan baik-baik aja karena saya nggak mau menambah beban di ruangan itu. Dia tetap bisa tahu. Pernikahan punya cara untuk memperlihatkan jarak antara apa yang saya katakan dan apa yang ditunjukkan wajah saya.
Saya bersyukur untuk itu, bahkan saat itu bikin saya merasa terlihat sebelum saya siap.
Di saat yang sama, saya nggak mau kesedihan saya jadi pusat rumah ini.
Itu susah diseimbangkan. Saya butuh ruang untuk merasakan apa yang terjadi. Saya juga perlu ingat bahwa keluarga saya sedang menjalani hari mereka sendiri di samping saya.
Putri saya masih pengin main. Istri saya masih memikul capeknya sendiri. Makanan masih perlu disiapkan. Rumah masih butuh tindakan-tindakan kecil penuh perhatian yang nggak mengumumkan dirinya sebagai hal penting.
Saya terus memikirkan itu.
Karier bisa goyah, dan rumah tetap meminta saya untuk lembut.
Mungkin itu juga kemudahan. Bukan jenis yang menghilangkan tekanan, tapi jenis yang menjaga saya tetap terikat pada cinta saat tekanan mencoba bikin saya sibuk dengan diri sendiri.
Pekerjaan dan Orangnya
Saya mencoba memisahkan pekerjaan dari orangnya.
Kedengarannya simpel sampai pekerjaan itu udah memikul waktu, stres, identitas, dan harapanmu. Saya peduli dengan apa yang saya kerjakan. Saya peduli untuk bisa diandalkan. Saya peduli untuk jadi orang yang bisa dipercaya orang lain saat semuanya nggak jelas.
Saat itu terputus, pikiran mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kejam.
Apa ada yang saya lewatkan?
Apa yang saya lakukan udah cukup?
Harusnya saya bisa melihat ini bakal terjadi?
Beberapa pertanyaan mungkin berguna nanti. Sekarang, banyak dari pertanyaan itu cuma bikin saya terjebak di ruangan yang nggak bisa saya ubah.
Saya mau belajar dari apa yang terjadi tanpa menjadikan diri saya sendiri sebagai hukumannya.
Pekerjaan itu aneh karena dia jadi bagian dari identitas harianmu tanpa minta izin.
Kamu membangun rutinitas di sekitarnya. Kamu tahu ngobrol sama siapa di pagi hari. Kamu tahu masalah apa aja yang ada di queue kamu. Kamu tahu bagian mana dari sistem yang rapuh. Kamu tahu keputusan-keputusan lama di dalam codebase karena kamu udah memikulnya cukup lama.
Lalu tiba-tiba harimu punya ruang kosong.
Ruang kosong terdengar enak sampai dia datang tanpa persetujuanmu.
Saya kira saya pengin istirahat. Saya memang pengin istirahat. Saya udah capek sejak lama. Tapi istirahat yang dipaksa nggak terasa seperti istirahat pada awalnya. Rasanya seperti berdiri di luar sebuah ruangan sementara tanganmu masih ingat di mana semua barang dulu berada.
Itu sebabnya saya perlu hati-hati dengan diri saya sendiri.
Saya perlu bertindak tanpa buru-buru mengambil keputusan karena takut. Saya juga perlu istirahat tanpa menghindari setiap task praktis.
Rasa Takut yang Praktis
Iman penting di sini, tapi angka juga.
Saya nggak mau pura-pura sebaliknya.
Tagihan itu ada. Rencana itu ada. Keluarga saya bergantung pada saya. Saya bisa bilang rezeki datang dari Allah dan tetap membuka spreadsheet. Saya bisa yakin soal rezeki dan tetap merasakan perut saya mengencang saat memikirkan timeline.
Ketegangan itu bagian dari semua ini.
Kadang bahasa agama dipakai seperti jalan pintas. Bilang tawakal, lewati rasa takutnya. Bilang Allah akan mencukupkan, berhenti ngomongin uang. Bilang semuanya terjadi karena suatu alasan, lanjut.
Saya rasa iman nggak meminta saya untuk sedatar itu.
Nabi mengikat untanya. Saya terus memikirkan itu. Ikat untanya, lalu percayakan pada Allah.
Bagi saya, mengikat unta itu kelihatannya membosankan.
Cek angkanya.
Update resume.
Balas pesannya.
Ajukan pertanyaannya.
Siapkan diri untuk percakapannya.
Tidur yang cukup supaya saya nggak mengubah panik jadi kepribadian.
Semua itu nggak terasa spiritual dalam artian sinematik. Rasanya seperti tanggung jawab biasa. Mungkin justru itu kenapa hal itu penting. Rasa percaya itu mencakup apa yang saya ucapkan saat saya merasa damai. Rasa percaya juga mencakup apa yang saya lakukan saat saya merasa rentan.
Saya mencoba menemukan ritme yang memungkinkan saya bertindak tanpa mengambil keputusan yang ceroboh.
Kemudahan Kecil
Kemudahannya selama ini kecil. Sebuah ayat yang teringat di waktu yang tepat. Rumah yang sepi selama beberapa menit. Sebuah pesan yang berhasil saya balas.
Putri saya menarik saya kembali ke saat ini tanpa tahu dia sedang melakukannya. Istri saya tetap di dekat saya saat saya nggak punya kata-kata yang berguna.
Nggak ada yang menyelesaikan semuanya.
Tapi semua itu menjaga saya supaya nggak tenggelam sepenuhnya.
Mungkin itu bagian yang saya lewatkan sebelumnya. Saya mengira kemudahan bakal terasa seperti penyelamatan. Pintu baru. Masalah yang selesai. Rasa percaya diri yang tiba-tiba bikin saya berdiri lebih tegak.
Mungkin kemudahan juga bisa jauh lebih tenang dari itu.
Kekuatan untuk salat selagi masih khawatir.
Keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya tanpa membuatnya cantik.
Kemampuan untuk membuka laptop lagi setelah nggak ngapa-ngapain.
Pengingat bahwa rezeki saya nggak pernah dipegang oleh satu perusahaan, satu jabatan, satu manajer, atau satu rencana.
Saya tahu kalimat itu lebih gampang ditulis daripada dijalani.
Saya tetap mencoba menjalaninya.
Kalimat soal rezeki itulah yang terus saya datangi lagi saat saya merasa paling takut.
Saya percaya Allah memberi rezeki.
Saya juga mengecek angka.
Dua-duanya benar.
Iman nggak bikin saya ceroboh. Iman bukan berarti saya mengabaikan tanggung jawab lalu menyebutnya sebagai rasa percaya. Saya tetap perlu mengirim pesan, bersiap, mengatur anggaran, menjawab, bertanya, belajar, dan mencoba.
Tapi iman mengubah bobot dari tindakan-tindakan itu.
Tanpa iman, setiap pesan terasa seperti memohon pada dunia supaya membiarkan saya bertahan hidup.
Dengan iman, saya bisa mengirim pesan itu dan ingat bahwa orang yang menerimanya bukan pemilik masa depan saya.
Saya nggak selalu merasakan itu. Ada hari-hari saat saya cuma tahu itu sebagai sebuah kalimat. Tapi bahkan sebuah kalimat bisa jadi tali kalau saya memegangnya cukup lama.
Pagi Ini
Pagi ini terasa beda dari pagi pertama.
Saya masih terluka, tapi paginya terasa lebih ringan.
Saya bangun dan beritanya masih benar, tapi nggak menghantam dengan sisi tajam yang sama. Rasanya lebih seperti beban yang udah saya tahu cara mengangkatnya selama beberapa menit.
Saya memaksa diri untuk duduk di depan laptop lagi.
Layarnya awalnya masih kosong. Saya masih berhenti sejenak sebelum mengetik. Tapi jeda itu nggak terlalu bikin saya takut lagi. Sekarang saya tahu itu apa. Pikiran saya butuh waktu sebentar sebelum bisa bergerak.
Jadi saya kasih dia waktu sebentar.
Lalu saya mengetik satu kalimat.
Lalu satu lagi.
Itu sebabnya saya mengubah tanggal tulisan ini ke pagi ini. Tulisan ini nggak dimulai sebagai refleksi yang udah jadi. Tulisan ini dimulai sebagai tempat untuk menaruh satu minggu yang terlalu berat untuk terus dipikul tanpa kata-kata. Pagi ini, kata-katanya terasa lebih dekat dengan apa yang terjadi.
Masih belum lengkap.
Tapi lebih dekat.
Saya rasa itu penting.
Menulis ini nggak menyelesaikan sisi praktisnya. Ini nggak bikin ketidakpastian jadi mulia. Ini nggak mengubah minggu ini jadi bab yang rapi.
Ini membantu saya mengatakan yang sebenarnya tanpa membiarkan kebenaran itu menelan saya.
Yang Bisa Saya Lakukan Hari Ini
Hari ini saya bisa update satu baris di resume saya.
Saya bisa membalas satu orang.
Saya bisa salat tanpa pura-pura merasa kuat.
Saya bisa duduk bersama istri saya dan nggak bikin seluruh ruangan ikut memikul rasa takut saya.
Saya bisa membiarkan besok tetap jadi besok untuk sekarang.
Tawakal itu susah buat saya karena saya masih pengin pegang kendali. Saya mau rencana yang jelas, langkah berikutnya yang rapi, hasil yang bisa diprediksi.
Tapi minggu ini terus mengajari saya sesuatu yang nggak pernah saya minta untuk dipelajari.
Saya bisa menggerakkan tangan saya dan tetap mengakui bahwa hasilnya milik Allah.
Itu bukan berarti saya diam selamanya. Artinya saya melakukan hal jujur berikutnya tanpa pura-pura saya mengendalikan seluruh peta.
Ada hari-hari saat hal jujur berikutnya itu praktis. Update dokumen. Kirim pesan. Siapkan jawaban. Buka spreadsheet dan lihat angkanya.
Ada hari-hari saat hal jujur berikutnya lebih kecil. Makan. Mandi. Salat. Gendong putri saya. Bilang ke istri saya kalau saya takut, bukan bikin dia menebak-nebak.
Dulu saya cuma menghargai langkah-langkah yang praktis. Minggu ini mengajari saya bahwa langkah-langkah yang lebih kecil juga dihitung.
Saya juga perlu hati-hati dengan kecepatan.
Saat sesuatu berakhir, saya pengin cepat-cepat menggantinya. Saya mau bukti bahwa saya masih diinginkan, masih berguna, masih orang yang saya kira. Saya mau hal berikutnya datang cukup cepat supaya saya nggak perlu duduk bersama kekosongan itu.
Tapi kekosongan itu ada di sini.
Saya nggak bisa terus lari darinya seharian.
Jadi saya mencoba membangun hari-hari yang nggak bergantung pada satu terobosan besar. Saya bisa punya pagi dengan satu task yang berguna. Saya bisa punya siang saat saya istirahat tanpa menyebut diri saya malas. Saya bisa punya malam saat saya menutup laptop dan duduk bersama keluarga saya, bukan me-refresh halaman yang sama lagi.
Ada hari-hari saat saya bakal melakukannya dengan buruk.
Lalu saya bakal coba lagi.
Yang Belum Siap Saya Katakan
Saya belum siap menjadikan cerita ini inspiratif.
Mungkin suatu hari saya bakal menulis versi yang rapi. Versi saat saya bisa menyebutkan apa yang berubah, apa yang saya pelajari, dan pintu apa yang terbuka setelahnya. Orang suka versi itu karena versi itu memberi rasa sakit sebuah tujuan yang bisa mereka lihat.
Saya belum sampai di sana.
Sekarang tujuannya lebih kecil.
Tetap dekat dengan Allah.
Tetap jujur dengan diri sendiri.
Tetap baik di rumah.
Kerjakan bagian pekerjaan berikutnya yang ada di depan saya.
Biarkan sisanya terungkap tanpa memaksakan akhirnya.
Itu kurang mengesankan dibandingkan cerita comeback, tapi itulah kebenaran yang saya punya hari ini.
Catatan untuk Saya di Masa Depan
Kalau saya membaca ini berbulan-bulan dari sekarang, saya harap saya nggak menertawakan versi diri saya yang ini.
Saya harap saya nggak bilang, "Why were you so scared?"
Tentu aja saya takut.
Sebuah pintu tertutup. Timing-nya menyakitkan. Keheningan setelahnya terasa terlalu besar. Saya punya keluarga yang harus dipikirkan dan pikiran yang nggak mau berhenti memutar ulang detail-detailnya.
Saya di masa depan harus lembut pada versi saya yang ini.
Dia sedang berusaha.
Dia menatap laptop terlalu lama, tapi dia membukanya lagi.
Dia merasa malu, tapi dia tetap mengatakan yang sebenarnya.
Dia pengin pegang kendali, tapi dia terus kembali ke Allah.
Dia nggak tahu langkah berikutnya, tapi dia mencarinya.
Kalau kemudahan udah datang saat itu, saya harap saya ingat gimana rasanya sebelum kemudahan itu datang. Saya harap saya nggak jadi sombong karena lega. Saya harap saya nggak pura-pura bahwa masa menunggunya lebih gampang dari kenyataannya.
Dan kalau saya masih menunggu, saya harap saya tetap membaca ayat ini dengan cara yang sama.
Bukan sebagai hiasan.
Sebagai tali.
Yang Ingin Saya Ingat
Kesulitan itu nyata.
Kemudahan juga nyata.
Kadang kemudahan nggak datang sebagai penyelamatan besar. Kadang kemudahan itu adalah kekuatan kecil untuk membuka laptop lagi setelah menatapnya selama lima belas menit.
Saya nggak tahu apa yang bakal terbuka berikutnya.
Saya tahu ini bukan akhir ceritanya.
Saya ingin ingat bahwa saya nggak perlu mengubah rasa sakit jadi konten sebelum saya siap. Saya menulis ini karena saya butuh tempat untuk menaruh minggu ini, bukan karena saya udah memahaminya.
Saya ingin ingat bahwa Allah melihat berita itu sebelum saya mendengarnya. Allah melihat keheningan setelahnya. Allah melihat layar kosong itu, wajah yang capek itu, rasa takut yang nggak mau saya ucapkan keras-keras.
Saya ingin ingat bahwa kemudahan bisa ada di samping saya bahkan saat saya belum bisa menamainya.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
With hardship comes ease.

Memuat komentar...