Paramore lagi-lagi berhasil membuat saya terkagum-kagum. Kali ini dengan lagu yang berjudul Fake Happy, dengan lirik mereka yang sangat dalam. Ketika album After Laughter mereka dirilis, respon saya sama seperti "fans" Paramore lainnya, bergumam sambil nyeletuk, "Apa-apaan ini album? Cuma satu lagu aja ya yang enak didenger?". Hehe, memang kok, kalo kamu ga bener-bener ngefans sama Paramore, kamu bakal ngomong seperti itu, yah macam kejadiannya Linkin Park-lah.
Tapi setelah saya selesai flashback-flashback ke albumnya Paramore yang Riot! dan brand new eyes, saya nyoba dengerin album terbaru mereka. Enak buat didenger, ga cuman buat "fans" dan fans dari Paramore aja. Secara general, musik mereka memang berbeda dengan sebelum-sebelumnya, tapi Hayley Williams menegaskan kalo musik di After Laughter ini mengadopsi band-band tahun '80an. Asik bener!π€
Tapi yang bikin saya menaruh hati banget sama album ini adalah liriknya. Coba dengerin lagu mereka yang berjudul Hard Times, ini lagu yang pertama kali saya suka di album ini. Musiknya mantap, liriknya juga ngena. π

Tapi akhir-akhir ini saya suka banget sama lagu mereka yang judulnya Fake Happy, sesuai judul postingan kali ini. Musiknya enak banget buat didengerin, tempo musiknya selaras sama tempo saya, alias saya suka banget kalo lagi latian drum sambil dengerin lagu ini. Liriknya? Secara implisit, Hayley naruh pesan yang jelas di lagu ini.
Sesuai dengan fenomena yang terjadi di zaman milenial ini, Hayley sepertinya paham benar dengan kalimat "Fake Happy" ini. Kalau menurut pengakuannya sendiri sih, Fake Happy ini seperti yang selama ini dia rasakan. Di atas panggung, karena tuntutan pekerjaan, dia harus professional, ceria, dan enerjik. Sedangkan sesungguhnya dia merasakan hal yang sebaliknya. π’
Sebenarnya, Fake Happy ini juga sering saya lakukan. Entah kenapa, menurut saya, menunjukkan rasa sedih ketika di hadapan teman sendiri itu sulit. Karena saya selalu takut teman saya akan mengatai saya banyak hal, dan paling parah, sampai ikutan sedih. Saya hanya berani cerita tentang perasaan sedih saya ke beberapa orang saja, orang yang menurut saya dekat dengan saya. Saya selalu meyakinkan teman-teman saya, bahwa saya happy dan saya enjoying life, meskipun sebenarnya tidak.
Menurut saya, setiap orang memiliki peperangan mereka sendiri, dan kita tidak pernah tau apa yang sedang mereka hadapi, kecuali kita berusaha memahami mereka. Dan saya yakin, seperti yang saya lakukan, doing a fake happy is a thing that motivates me more, dan saya berharap orang-orang di luar sana juga melakukan hal yang sama.
Ya mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa menyalahkan orang yang membentengi diri mereka dengan "Fake Happy", karena mereka pun punya emosi mereka sendiri, punya alasan mereka sendiri. Terlebih lagi sekarang banyak sekali wadah yang pas untuk mereka mengekspresikan emosi mereka, yaitu sosial media. Tapi yang jelas, manusia tetaplah manusia. Setidaknya itulah yang saya percaya, bahwa kita semua tetap berhak untuk "Happy" meskipun itu "Fake".

Memuat komentar...