Loving you has become synonymous with breaking myself.
Ominously and so subtly present when I met you.
Veiled in the shadows of a love I thought would save me.
Easing myself into a devastating contract I didn't understand.
I signed myself up for eternal misery without even knowing.
Signed myself up for the pain of losing myself within you.
Darkness seeped in while your hands intertwined with mine.
Evading all detection before it was too late.
A love built up on lies and unrequited feelings.
Dead, the idea that love ever ends in love.
Mencintai seseorang yang nggak bisa atau nggak mau membalas cintamu bisa bikin kamu terus menunggu perubahan yang nggak pernah datang. Harapan bikin kita susah melihat apa harga dari penantian itu.
Istilah "devastating contract" menggambarkan sebuah komitmen yang harganya baru kelihatan ketika semuanya udah terlambat. Mencintai seseorang sedalam apa pun nggak bisa bikin dia membalas perasaan itu.
Kegelapan yang "seeps in" menggambarkan rasa sendirian, bahkan ketika sedang dekat secara fisik. Berada di samping seseorang nggak selalu berarti merasa dicintai.
Saya menulis ini ketika sedang belajar mengenali kapan cinta mulai merusak. Keinginan untuk "happily ever after" bisa bikin kita susah mengakui kalau bertahan itu menyakitkan.
Cinta bisa berakhir pelan-pelan. Yang tersisa mungkin adalah keterikatan pada seseorang, atau pada apa yang dulu pernah ada di hubungan itu.

Memuat komentar...