Kalau saya bisa bilang lewat kata-kata seberapa berarti kamu buat saya, saya bakal bilang I love you.
Tapi I love you aja bahkan nggak cukup buat menggambarkan seberapa berarti kamu buat saya.
Pepatah "A picture is worth a thousand words" berlaku buat kamu.
Kamu bernilai seribu, sejuta kata.
Dan sejuta kata pun nggak bakal cukup, bahkan buat mulai menggambarkan seberapa berarti kamu buat saya.
Kalau saya bisa nunjukin seberapa berarti kamu buat saya, saya bakal nunjukin matahari terbenam di lereng bukit, atau saya bikinin kamu malaikat di atas salju.
Kalau saya bisa ngasih seberapa berarti kamu buat saya, saya bakal kasih seluruh diri saya.
Tapi itu pun nggak bakal cukup.
Nggak ada yang bisa mengungkapkan seberapa berarti kamu buat saya.
Nggak lewat omongan, nggak lewat kata-kata, nggak lewat nunjukin, nggak lewat ngasih apa pun. Nggak satu pun.
Jadi sayalah yang bakal berutang ke kamu segala yang saya punya, dan terjebak karena nggak ada yang pernah cukup.
Kamu bakal selalu lebih berarti buat saya daripada yang pernah kamu tahu.
Puisi ini kembali ke susahnya mengungkapkan perasaan yang nggak bisa sepenuhnya disampaikan lewat kata-kata dan gestur.
Setiap percobaan balik lagi ke masalah yang sama: kata-kata, gestur, atau waktu bersama tetap bisa terasa nggak cukup.
Matahari terbenam dan malaikat di atas salju ngasih perasaan itu bentuk yang kelihatan, bahkan ketika penjelasan langsung nggak sampai.
Baris terakhirnya, "Kamu bakal selalu lebih berarti buat saya daripada yang pernah kamu tahu," membiarkan perasaan itu menggantung. Keinginan buat dimengerti tetap ada, meskipun kata-katanya terbatas.
Waktu itu, saya lagi belajar bahwa ungkapan yang nggak sempurna nggak bikin perasaannya jadi kurang nyata.

Memuat komentar...